Thursday, April 10, 2008

Bertumbuh Dewasa

Oleh : Angelina Kusuma

Waktu duduk dikelas 4 SD, saya mempunyai sebuah pengalaman lucu ketika diajak bepergian oleh kedua orang tua saya. Tradisi keluarga besar saya dari pihak ibu, selalu mengadakan acara arisan keluarga setiap dua bulan sekali secara bergiliran dari rumah kerabat satu ke rumah kerabat yang lainnya. Hari itu saya diajak untuk mengikuti acara tersebut di rumah kerabat kami yang berbeda kecamatan - tetapi masih dalam satu kota/kabupaten - dan hanya berjarak sekitar 30 kilo meter dari rumah saya.

Ketika mobil yang kami tumpangi saat itu melewati sebuah perempatan jalan, dengan girang saya kecil berteriak, "Papi, kok seragam pak polisi yang ada dipatung itu sama dengan seragam yang dipakai polisi di NEGARA kita ya ?"

Ayah saya menoleh kearah patung berbentuk polisi lalu lintas yang ada disalah satu pojok perempatan jalan yang saya tunjuk sambil tertawa, sama seperti saya saat ini yang bisa tertawa jika mengenang peristiwa 16 tahun yang lalu tersebut - mungkin anda juga akan tertawa ketika mendengar seorang anak kelas 4 SD yang baru bepergian keluar kecamatan dalam satu kota yang sama dengan rumahnya, tetapi sudah mengira bahwa ia berada diluar negeri.

Seiring dengan bertambahnya usia, meluasnya jarak pandang, dan juga banyaknya pengalaman yang telah dilalui seseorang, maka cara berfikirnya juga akan bertambah panjang. Jika saya waktu kelas 4 SD mengira bahwa pergi keluar kecamatan saja rasanya sudah berada di negara lain, sekarang meskipun saya pergi keluar propinsipun dalam wilayah Indonesia sudah tidak lagi menganggap bahwa saya sedang berada diluar negeri.

Bayangkan jika diusia saya yang sudah lewat seperempat abad ini saya masih mempunyai cara berfikir seperti seorang anak kecil, kelas 4 SD. Apakah yang akan dikatakan oleh orang lain mengenai saya ? Mungkin julukan orang bodoh, idiot, mempunyai keterbelakangan mental, sampai orang gila bisa disematkan kepada saya karena cara berfikir yang tidak mengalami perubahan sama sekali seiring bertambahnya usia dan tubuh saya yang mengembang keatas dan ke kanan - kiri.

Ada satu lagi pengalaman lucu lain yang terjadi ketika saya duduk dibangku kelas 3 SD. Hari itu ada ujian Bahasa Indonesia di kelas saya. Saya mengerjakan semua pertanyaan yang ada dilembar soal dengan sebaik mungkin. Tiba-tiba waktu guru penjaga keluar ruangan, seisi kelas menjadi gaduh. Beberapa teman laki-laki yang tempat duduknya persis dibelakang saya mulai sibuk bicara dan bertukar jawaban.

Epen : "Sttt, jawaban pertanyaan, 'Kita menanam padi dimana ?' apa ?"
Putut : "A, di kamar."
Epen : "Masa 'di kamar' ?"
Putut : "Iya benar, 'di kamar'. Percaya deh sama aku."

Anda pasti sudah tahu jawaban yang benar tempat untuk menanam padi bukan ? Yup, jawabannya pasti 'di sawah'. Dan memang dijawaban soalnya ada beberapa pilihan seperti : kamar, sawah, ladang, dan kebun. Seluruh pembicaraan dua orang teman laki-laki yang duduk dibelakang saya tersebut masuk ke dalam telinga saya. Begitu mendengar bahwa teman saya menjawab 'di kamar' sebagai jawaban dari tempat menanam padi, saya kecil mulai bimbang dengan pilihan jawaban saya sendiri.

"Teman-temanku memilih jawaban 'di kamar', masa aku memilih jawaban 'di sawah' sendiri ? Nanti kalo jawabanku malah salah bagaimana ?", pikiran seperti ini mulai memasuki pikiran dan manguasai hati saya. Akhirnya, saya kecil mengganti pilihan jawaban di kertas saya persis seperti jawaban dua orang teman dibelakang saya, yang pembicaraannya saya dengar sebelumnya. Jawaban dari menaman padi adalah : 'di kamar' ! - Itulah salah satu the final answer yang mengisi kertas ujian Bahasa Indonesia saya hari itu.

Beberapa hari kemudian, ibu saya yang menjadi salah satu guru di SD saya juga, memanggil saya ketika saya sedang menikmati makan siang di rumah. Dengan sedikit tertawa beliau mulai bertanya kepada saya, "Lin *), kamu menjawab pertanyaan menanam padi waktu ujian Bahasa Indonesia kemarin dimana sie ?"

Saya kecil : "Di kamar, Mi."
Ibu saya : "Kok bisa 'di kamar' ?"
Saya kecil : "Abisnya, si Putut ma Epen juga jawab soal itu 'di kamar' sie, Mi. Aku dengar mereka ngobrol pas Bu Har keluar kelas kok. Jadi aku rubah deh jawabanku sendiri biar sama ma mereka."

Menanam padi 'di kamar' ! Anda pasti tergelak membayangkannya bukan ? Begitu polosnya hati seorang anak kecil. Begitu mudahnya pendirian seorang anak kecil diombang-ambingkan oleh keadaan yang ada disekelilingnya. Dan begitu belum perdulinya seorang anak kecil dengan hidupnya sendiri, kecuali semangat untuk bermain-main dan berbagi dengan teman-temannya meskipun terkadang itu salah.

Setiap manusia pasti harus melewati masa bayi, kanak-kanak, dan remaja terlebih dahulu sebelum bertumbuh menjadi dewasa. Setiap manusia akan dituntut semakin berfikir dewasa seiring dengan bertambahnya usia dan pertumbuhan fisiknya. Sesuatu yang menyimpang jika saya tetap membawa kebiasaan saya waktu SD diatas sampai usia saya yang sekarang.

Berfikir sempit, tergesa-gesa, mudah terpengaruh dengan lingkungan, hanya ingin bermain-main atau bersenang-senang saja tanpa memikirkan masa depan, adalah beberapa ciri dari polah tingkah anak kecil yang belum bertumbuh dewasa. Anak kecil hanya dapat menyusu kepada ibunya dan tidak bisa berkarya lebih bagi dunia ini.

Anak-anak masih memerlukan bimbingan orang tuanya untuk mengambil keputusan, tidak bisa menentukan mana yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri, dan tidak bisa bertindak sendiri tanpa pengawasan langsung dari kedua orang tuanya.

Hanya orang dewasa yang pantas menjadi raja dari sebuah negara besar. Hanya orang dewasa yang diperbolehkan menikah dan membina rumah tangganya sendiri. Hanya orang dewasa yang diperbolehkan bekerja dan mendapat gaji sesuai dengan standar upah harian minimum. Hanya orang dewasa yang bisa berbuah - baik buah-buah secara rohani maupun menghasilkan anak sebagai buah jasmani.

Kedewasaan selalu memerlukan pertumbuhan. Dan bertumbuh menjadi dewasa dalam cara berfikir dan tingkah laku adalah sebuah pilihan, bukan sebuah kepastian seperti pertumbuhan fisik yang pasti kita alami sesuai dengan bertambahnya usia kita setiap tahunnya.

1 Korintus 13:11, Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.




*) Lin adalah singkatan dari Lina - Angelina, panggilan saya di rumah.



No comments: