Thursday, April 10, 2008

Gambar Bapa Dunia yang Rusak dan Ketakutan Tersakiti oleh Cinta

Oleh : Angelina Kusuma

"Aku takut jatuh cinta."

Statement seperti diatas terlontar dari mulut seorang teman dekat saya ketika kami sharing via chatting di internet dua hari kemarin. Sebuah statement singkat yang tetap saja membuat saya terkejut meskipun sudah berulang kali mendengar statement-statement seperti ini keluar dari mulut anak-anak Tuhan lainnya, tidak hanya kali itu saja. Kebanyakan dari mereka bukanlah anak-anak Tuhan yang kurang mengerti Firman Tuhan atau anak Tuhan yang berlabel gampangan. Mereka termasuk bagian anak-anak Tuhan yang rajin pelayanan, rajin beribadah baik di gereja maupun ibadah pribadi, dan mempunyai kesaksian mukjizat diseputar kehidupan mereka.

Tidak puas hanya mendengar bahwa teman saya ini ternyata takut untuk bersinggungan dengan area relationship, akhirnya saya menanyakan sebuah pertanyaan sederhana kepadanya, "Apa kamu punya masalah dengan Papamu (gambar bapa dunia)?"

That's right, hampir semua teman-teman saya yang mengalami ketakutan ketika mulai bersinggungan dengan cinta kasih ke lawan jenis, ternyata mereka telah kehilangan gambar bapa dunianya terlebih dahulu atau sedang bermasalah dengan area tersebut. Bukan sebuah kebetulan jika saya bisa menebak bahwa seseorang yang takut jatuh cinta diantara sebabnya karena telah kehilangan gambar bapa dunianya atau hubungannya dengan bapa dunia sedang bermasalah. Beberapa tahun sebelumnya, Tuhan mengizinkan saya mengalami hal yang sama. Tuhan mengizinkan saya kehilangan gambar bapa dunia saya terlebih dahulu kemudian mengizinkan saya menelan ketakutan ketika saya menemui seorang pria baik dan saya merasa, it's good to be in love with him.

Dari website BPK Penabur, saya memperoleh penjelasan lebih rinci mengenai hubungan antara rusaknya gambar bapa dunia dan ketakutan seseorang ketika mulai bersinggungan dengan cinta kasih.

Bagi anak laki-laki, figur ayah memiliki sumbangan besar dalam terbentuknya identitas diri. Ayahnya dijadikan model pada waktu ia belajar bagaimana seorang laki-laki menjalankan perannya dan juga dijadikan referensi dalam bersikap terhadap lawan jenisnya. Sedangkan bagi anak perempuan, disamping ia belajar sifat maskulin dari ayahnya, ia juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis. Hubungan emosi yang hangat dan kenangan yang manis dengan ayahnya di masa pekembangannya, membantu dirinya untuk dapat menilai lawan jenisnya dengan lebih objektif. Di samping itu, hal tersebut juga membekali dirinya dengan kemampuan untuk menjalin hubungan yang sehat dengan lawan jenisnya.

Figur bapa dunia baik bagi anak-anak laki-laki dan perempuan itu sangat penting. Figur ini tidak bisa digantikan atau diisi sepihak oleh seorang ibu, sebaik apapun watak dan perilaku sang ibu tersebut. Saat hubungan saya dengan Papi saya mulai membuat saya merasa tidak nyaman, hal ini juga ikut merusak gambaran setiap hubungan yang baik di area relationship dan membuat saya takut tersakiti oleh love itu sendiri.


Sesuatu yang tidak baik tentunya, jika kita memelihara akar pahit didalam diri kita terlalu lama. Menghindar dari area relationship ternyata bukanlah tindakan yang tepat bagi masa lalu saya. Saat saya mulai berlari menjauh dari cinta kasih, hal itu justru semakin menyakiti diri saya sendiri.

Ketika kita membunuh sebuah perasaan kasih kepada lawan jenis kita yang seharusnya terjadi secara normal dengan cara yang tidak wajar, maka sebenarnya kita seperti seekor lebah yang mengeluarkan sengatnya dan pasti akan mati kurang lebih satu jam berikutnya. Sengat lebah bukan saja menyakiti seseorang atau sesuatu yang terkena sengatnya. Terlebih lagi, sengat lebah akan menyakiti dirinya karena setelah sengat itu keluar dari tubuhnya maka lebah tersebut harus bersiap untuk mati.

"Jangan jadi pengecut, sadari dulu kalo kamu sakit. Kamu perlu pemulihan gambar Bapa yang sesungguhnya, bukan menghindari area relationship seperti itu", kalimat ini adalah cambuk yang diberikan oleh salah seorang teman rohani yang memacu saya untuk keluar dari ketakutan saya mengenal kasih antar lawan jenis dan memperbaharui gambar bapa dunia saya yang bermasalah dengan segera.

Ketakutan kita terhadap sesuatu tidak akan pernah memberi nilai tambah apapun dalam hidup kita. Dan saya sadar betul bahwa hidup saya hanya akan tergantung pada pilihan saya sendiri, bukan yang lain. Tuhan selalu merancangkan yang terbaik dalam hidup kita. Ia tidak mungkin menghancurkan hidup kita begitu saja. Iblis juga tidak mempunyai cukup kuasa untuk menghancurkan hidup kita karena kuasanya sudah dilucuti saat Yesus mati diatas kayu salib. Ditangan kitalah pilihan tentang baik dan buruk dalam hidup kita itu berada. Keegoan kitalah yang bisa menghancurkan hidup kita, bukan Iblis, bukan manusia lain, apalagi Tuhan.

Porselen pecah di tangan seorang seniman bisa dirubah menjadi sebuah mozaik nan indah. Sampah-sampah ditangan seorang pengrajin bisa dirubah menjadi kerajinan recycle yang berguna kembali bagi manusia. Gambar yang rusak pun sudah bisa diperbaiki dengan software rekayasa digital saat ini. Apalagi kekurangan kita ditangan Tuhan Yesus, Sang Penjunan Agung. Adakah yang tidak bisa Ia lakukan untuk memperbaiki sisi-sisi kehidupan kita yang tidak sebagaimana mestinya? Akankah dibiarkan-Nya gambar bapa dunia kita rusak selamanya? Sesuatu yang telah rusak memang tidak akan bisa kembali sempurna seperti pada awalnya. Tetapi jika dimanfaatkan menjadi bentuk lain, maka ia akan tetap berguna bagi kehidupan manusia selanjutnya.

Dialah Bapa kita yang sesungguhnya. Rusaknya gambar bapa didunia kita tidak akan mengurangi sedikitpun kasih sayang-Nya kepada kita. Meskipun gambar bapa dunia kita telah rusak, jika pandangan kita selalu mengarah kepada-Nya maka Ia akan turun tangan memperbaiki gambar-gambar kita yang rusak tersebut dan menggantinya dengan yang lebih indah dan bernilai kekal.

Melompat keluar dari kelemahan

Jika kita terpaku kepada ketakutan-ketakutan kita, selamanya kita tidak akan pernah bisa menggenapi tujuan mulia-Nya didalam hidup kita. Ia menciptakan kasih untuk membuat kehidupan manusia penuh kedamaian. True love tidak akan pernah menyakiti hati kita. Perasaan terluka atau ketakutan tersakiti oleh cinta hanya ada karena kita tidak mengerti tentang prinsip relationship itu sendiri. Relationship melibatkan tiga pribadi, pria, wanita, dan Yesus Kristus sebagai pusat atau puncak dari relationship itu. Jika memang semua benar dan tepat pada waktunya, kasih sejati akan mencari jalannya sendiri untuk menemukan hubungan yang sehat diantara ketiga pribadi tersebut.


"If you would be loved, love and be lovable" - Benjamin Franklin



No comments: