Thursday, September 10, 2009

Perbedaan Cara Berkomunikasi Antara Pria dan Wanita

Oleh : Angelina Kusuma

Mungkin, anda sering mendengar pernyataan seperti ini terlontar dari mulut seorang wanita, "Aku bingung deh, kenapa pria itu mundur teratur dari pdkt-nya ke aku ya. Padahal aku udah ngrasa ngasih tanggapan balik lho. Apa ada yang salah dengan tindakanku? Aku kurang ngasih sinyal atau justru kebanyakan ngasih sinyal sampek dia ilfil gitu sekarang?"

Nah, sementara itu, mungkin anda juga pernah mendengar pernyataan seperti ini dari para pria, "Aku nggak paham sama wanita ini. Dibaiki salah, dicueki salah. Dideketin menjauh, dijauhi...eh, malah mendekat. Enaknya diapain coba? Wanita emang makhluk Tuhan yang paling rumit sedunia!"

Jika anda wanita yang sulit mengerti cara berpikir pria, berarti anda masih normal. Itu artinya, anda masih wanita tulen! Dan jika anda pria yang kurang paham dengan tingkah laku wanita, berarti anda juga masih normal. Artinya, anda belum menjadi wanita hehehe.

Sejak awal, pria dan wanita sudah berbeda. Kata John Gray, pria itu dari Mars dan wanita itu dari Venus. Fisik serta mental pria dan wanita, berbeda. Pria hanya bisa menggunakan satu bagian dari otaknya pada satu saat saja, tapi wanita bisa menggunakan seluruh bagian otaknya pada satu saat yang sama. Pria seperti seorang pelari jarak cepat dan wanita lebih punya daya tahan atau keuletan (stamina) yang kuat. Pria memerlukan testosterone (hormon yang berkaitan dengan kekuatan tubuh) ketika menghadapi persoalan, dan wanita lebih memerlukan oxytocin (hormon yang berkaitan dengan kelekatan sosial) saat menghadapi masalah.

Sebuah pepatah berkata, jika anda bertanya kepada seorang pria, "Sekarang jam berapa?", maka ia akan segera melihat ke arlojinya. Tapi jika anda bertanya tentang pertanyaan yang sama itu kepada seorang wanita, tak berapa lama kemudian ia akan bercerita mengenai arloji-arloji cantik yang dilihatnya di pusat perbelanjaan kemarin sore kepada anda.

Women like people; men like things

Ketika dua orang wanita sedang berbicara, topik yang mereka bahas biasanya tak jauh dari kehidupan sehari-harinya. Wanita lebih tertarik berbicara mengenai penampilan mereka (cara make up, diet, acara shopping, dan lain-lain), keluarga mereka (orang tua dan saudara-saudaranya), pernikahan dan anak-anak mereka (bagi yang sudah menikah), pria mana yang sedang menarik perhatian mereka saat ini (bagi yang masih jomblo), pacar mereka (bagi yang sudah berpacaran), hubungannya dengan orang lain (dengan sahabat, rekan sekerja, tetangga, dan lain-lain), sampai urusan-urusan pribadi orang lain yang mereka kenal ataupun yang tidak mereka kenal (bisa membahas berita dari artis A, B, C, yang baru mereka tonton di televisi).

Ketika dua orang pria berbicara, benda, hobby, dan pekerjaan adalah obyek yang mereka sukai. Gadget apa yang sedang mereka buru, barang elektronik apa yang baru saja mereka boyong ke rumah, skor pertandingan sepak bola yang baru saja mereka lihat semalam, hasil modifikasi mobil atau kendaraan pribadi mereka, atau juga masalah tender yang baru saja berhasil mereka dapatkan di kantor.

Meski pria terkesan cuek terhadap pembicaraan mengenai hubungannya dengan manusia lain, bukan berarti mereka tidak suka membicarakannya. Tapi kadarnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan tingkat ketertarikan mereka saat membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan benda kesayangan mereka, hobby, dan pekerjaan. Demikian juga sebaliknya dengan para wanita.

Wanita berkomunikasi untuk mengekspresikan diri; pria berkomunikasi untuk memecahkan masalah dan bertukar informasi

Susunan otak pria dan wanita berbeda. Otak pria tersekat-sekat secara tegas yang mempengaruhi kemampuan dalam mengelola informasi di kepalanya. Hal ini memungkinkan pria untuk memilah dan menyimpan informasi dengan rapi di kepalanya, sehingga emosi pria relatif lebih mudah dikendalikan.

Di otak wanita tidak ada sekat-sekat tegasnya seperti pada otak pria. Semua masalah yang dipunyai wanita akan terus berputar-putar di kepalanya. Wanita cenderung melakukan pengulangan atas informasi yang sampai di kepala mereka berkali-kali. Satu-satunya cara untuk menghentikan penumpukan informasi-informasi di kepala wanita adalah dengan mengungkapkannya. Karena itulah wanita suka mengobrol dengan orang lain untuk sekedar menguraikan masalah agar membuatnya lega. Mengobrol membantu otak wanita untuk memilah-milah dan menata informasi-informasi di kepalanya, sehingga emosi mereka bisa stabil kembali setelah sharing dengan orang lain.

Kebiasaan wanita yang satu ini, kadang tidak akan bisa dimengerti oleh para pria. Mereka pikir, mereka harus selalu memberikan solusi atas apa yang diungkapkan oleh pasangan/teman wanita yang mengajaknya bicara/sharing. Padahal, wanita mengajak mereka ngobrol terkadang tidak perlu solusi, hanya perlu didengar karena keunikan otak wanita yang tidak bisa memilah-milah informasi dengan tegas tadi (hanya untuk mengekspresikan diri).

Berbeda dengan wanita, pria berkomunikasi dengan alasan yang agak serius. Ketika pria perlu berkomunikasi artinya mereka sedang perlu penyelesaian atas masalah-masalah mereka dan bertukar informasi (pencerahan istilah macho-nya).

Wanita suka berbicara di tempat khusus; pria lebih suka berbicara di tempat umum

Kebanyakan pria lebih menyukai tempat keramaian untuk mengobrol. Mereka tidak suka mengobrol dengan sesamanya di tempat yang sepi karena topik pembicaraan mereka memang tidaklah terlalu rahasia. Untuk sekedar mendiskusikan skor pertandingan sepak bola semalam, gadget keluaran baru, atau game terbaru yang ingin segera mereka mainkan, tentu tidak perlu tempat khusus yang penuh privacy bukan? Dan mungkin jika dua orang pria kepergok sedang berbicara akrab di tempat yang sepi berduaan, bisa-bisa mereka dianggap sebagai pria abnormal alias gay hehehe.

Wanita berbicara untuk menjalin kedekatan dan mengungkapkan perasaannya secara bebas. Karena topik pembicaraan wanita lebih ke arah personal dan rahasia, maka wanita lebih suka berbicara di tempat-tempat yang tenang dan agak sepi, misalnya cafe, rumah, sampai di toilet mall/plaza/hotel/pusat perbelanjaan lain.

Wanita bertanya untuk menggali informasi dan menjalin kedekatan hubungan; pria lebih suka to the point

Wanita suka banyak bertanya, bahkan bertanya tentang pertanyaan yang mereka sendiri sudah tahu jawabannya atau meski mereka tidak memerlukan jawaban atas pertanyaan yang telah mereka lontarkan itu dari orang lain. Wanita lebih suka dianggap dirinya 'ada' dengan bertanya ini itu meskipun tampak terlalu boros bahasa di mata para pria.

Pertanyaan wanita seperti, "Aku udah cantik belum?", "Bajuku pantes nggak dengan riasanku?", "Kamu beneran masih cinta sama aku seperti dulu kan?", "Kamu kangen sama aku kan?", dan sebagainya, mungkin akan sangat membosankan bagi pria. Tapi itulah wanita. Meski mereka sudah tahu jawabannya atau tidak butuh jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan itu, mereka akan tetap bertanya untuk memuaskan dirinya!

Berbeda dengan wanita yang suka bertanya untuk menggali informasi dan menjalin kedekatan dengan orang yang ditanyainya, pria tidak terlalu suka bertanya. Bagi pria, banyak bertanya bisa menunjukkan kelemahan dan tanda tak mampu mereka, apalagi jika mereka berada di depan wanita. Pria lebih suka menangani masalahnya sendiri dan berusaha menyelesaikannya hingga akhir, meski mereka tidak tahu bagaimana caranya dan hanya bermodal tebak-tebakan (karena tidak mau bertanya lebih dulu tadi).

Pria lebih suka to the point ketika ingin berkata-kata. Sikap to the point pria ini kadang membuat orang lain tersakiti atau terperanggah (terkejut-kejut) karena sikapnya yang kurang bisa menjaga perasaan lawan bicara dengan mengatakan apa saja yang terlintas di kepalanya tanpa berpikir panjang itu.


Dengan memahami perbedaan antara cara pria dan wanita dalam hal berkomunikasi ini, jangan heran lagi jika keduanya sulit mencapai kata sepakat di awal-awal interaksi. Tapi, jika masing-masing pria dan wanita berusaha untuk saling memahami satu sama lain dan mengontrol emosi saat sedang berkomunikasi, tidak ada kemustahilan untuk menyamakan hasil akhirnya karena pada dasarnya perbedaan yang diciptakan oleh Tuhan antara pria dan wanita itu adalah untuk saling melengkapi, bukan untuk menimbulkan perpecahan (nj@coe).




No comments: